Bittersweet Life
Memori lama datang kembali. Menyesakkan dada, karena teringat dulu betapa gue sangat mengidam-idamkannya.
It's called a dream. One of my BIG DREAM. Universitas yang - semenjak duduk di bangku kelas 2 SMA - sangat membuat gue semangat untuk menggapai cita-cita.
Bertempat di Rawamangun. Yups. It's Univ Negeri Jakarta atau UNJ. Pabrik yang menghasilkan guru - guru berkualitas.
Pada saat itu gue hanya tau UNJ yang memiliki jurusan PGSD terbaik selain UPI. Karena orang tua tak meng-acc utk kuliah di UPI, akhirnya gue benar-benar menetapkan pilihan untuk mengambil UNJ-PGSD.
Singkat cerita, semua jalur telah gue lalui. Tapi tak ada hasil yang gue dapat. Hikshiksss T-T Apalagi saat mengetahui hasil SBMPTN. Sudah tak terkira airmata yang gue tumpahkan pada minggu-minggu akhir Ramadhan saat itu. Sangat-sangat membuat depresi.
Tapi saat mengetahui ujian Mandiri atau Penmaba UNJ, alhamdulillah gue tak terlalu terpuruk. Entah, mungkin karena sudah merasakan pahitnya ditolak oleh "sang pujangga" :'''''))))
Tapi jujur saja, itu tetap membuat gue sedih. Apalagi itu adalah salah satu mimpi terbesar gue. Gue hanya bisa bersabar, introspeksi diri, dan tetap melangkah ke depan.
Mungkin usaha gue belum mencapai titik darah penghabisan? My deepest heart said : iya bener tri, belom maksimal. Sahabat-sahabat tercinta gue juga tetap support dan mendoakan gue semoga dapat yang lebih baik. They're the precious one to me.
Dan UHAMKA menjadi tujuan terakhir. Tapi tetap gue pilih PGSD untuk meraih cita-cita. Awalnya terasa berat. Saat bertemu teman-teman baru, banyak dari mereka yang bernasib seperti gue. You're not alone kok tri. Hal itu membuat gue merasa lega, sekaligus baru menyadari bahwa peminat PGSD itu sangatsangatsangat banyak.
Agak sedih ketika gue Flashback ke masa-masa itu. Masih ada sisa-sisa ambisi untuk berjuang mendapatkan UNJ. Terbesit di pikiran gue untuk mencoba kembali SBM tahun depan. Tapi gue juga sudah mengeluarkan banyak tenaga dan materi untuk survive di UHAMKA ini. Karena materi yang sudah orang tua gue korbankan itu gak sedikit jumlahnya. Hal yang terkesan sangat bodoh dan "gak tahu diri" kalau gue keukeuh untuk tetap mencoba SBM tahun depan.
Akhirnya gue memilih untuk survive di UHAMKA. Karena di UHAMKA, gue gak hanya dapat ilmu dunia, tapi juga ilmu akhirat. Toh juga PGSD lulusan UHAMKA juga -menurut para dosen- sekarang tidak kalah bagusnya dengan lulusan UNJ. Dengan kata lain lulusan UHAMKA dipandang baik oleh masyarakat. Hal itu membuat gue dan teman-teman terpacu untuk melakukan yang terbaik dan tetap optimis.
Mungkin memang Allah ingin melihat gue melakukan yang lebih baik lagi, agar dapat hasil yang setimpal dgn apa yang gue kerjakan. Atau mungkin memang ini yang terbaik untuk gue. Karena Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan, isn't it? Ada baiknya untuk
selalu husnudzon dengan apa yang diberikan oleh Allah.
Sejatinya, bukan masalah lo kuliah dimana, tapi bagaimana lo menjalankan kuliah dengan usaha terbaik lo. Jadikan masa lalu sebagai pacuan untuk melakukan yang terbaik, bukan untuk terus diratapi.
Fix the past, be grateful of what you have now and do your best!
It's called a dream. One of my BIG DREAM. Universitas yang - semenjak duduk di bangku kelas 2 SMA - sangat membuat gue semangat untuk menggapai cita-cita.
Bertempat di Rawamangun. Yups. It's Univ Negeri Jakarta atau UNJ. Pabrik yang menghasilkan guru - guru berkualitas.
Pada saat itu gue hanya tau UNJ yang memiliki jurusan PGSD terbaik selain UPI. Karena orang tua tak meng-acc utk kuliah di UPI, akhirnya gue benar-benar menetapkan pilihan untuk mengambil UNJ-PGSD.
Singkat cerita, semua jalur telah gue lalui. Tapi tak ada hasil yang gue dapat. Hikshiksss T-T Apalagi saat mengetahui hasil SBMPTN. Sudah tak terkira airmata yang gue tumpahkan pada minggu-minggu akhir Ramadhan saat itu. Sangat-sangat membuat depresi.
Tapi saat mengetahui ujian Mandiri atau Penmaba UNJ, alhamdulillah gue tak terlalu terpuruk. Entah, mungkin karena sudah merasakan pahitnya ditolak oleh "sang pujangga" :'''''))))
Tapi jujur saja, itu tetap membuat gue sedih. Apalagi itu adalah salah satu mimpi terbesar gue. Gue hanya bisa bersabar, introspeksi diri, dan tetap melangkah ke depan.
Mungkin usaha gue belum mencapai titik darah penghabisan? My deepest heart said : iya bener tri, belom maksimal. Sahabat-sahabat tercinta gue juga tetap support dan mendoakan gue semoga dapat yang lebih baik. They're the precious one to me.
Dan UHAMKA menjadi tujuan terakhir. Tapi tetap gue pilih PGSD untuk meraih cita-cita. Awalnya terasa berat. Saat bertemu teman-teman baru, banyak dari mereka yang bernasib seperti gue. You're not alone kok tri. Hal itu membuat gue merasa lega, sekaligus baru menyadari bahwa peminat PGSD itu sangatsangatsangat banyak.
Agak sedih ketika gue Flashback ke masa-masa itu. Masih ada sisa-sisa ambisi untuk berjuang mendapatkan UNJ. Terbesit di pikiran gue untuk mencoba kembali SBM tahun depan. Tapi gue juga sudah mengeluarkan banyak tenaga dan materi untuk survive di UHAMKA ini. Karena materi yang sudah orang tua gue korbankan itu gak sedikit jumlahnya. Hal yang terkesan sangat bodoh dan "gak tahu diri" kalau gue keukeuh untuk tetap mencoba SBM tahun depan.
Akhirnya gue memilih untuk survive di UHAMKA. Karena di UHAMKA, gue gak hanya dapat ilmu dunia, tapi juga ilmu akhirat. Toh juga PGSD lulusan UHAMKA juga -menurut para dosen- sekarang tidak kalah bagusnya dengan lulusan UNJ. Dengan kata lain lulusan UHAMKA dipandang baik oleh masyarakat. Hal itu membuat gue dan teman-teman terpacu untuk melakukan yang terbaik dan tetap optimis.
Mungkin memang Allah ingin melihat gue melakukan yang lebih baik lagi, agar dapat hasil yang setimpal dgn apa yang gue kerjakan. Atau mungkin memang ini yang terbaik untuk gue. Karena Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan, isn't it? Ada baiknya untuk
selalu husnudzon dengan apa yang diberikan oleh Allah.
Sejatinya, bukan masalah lo kuliah dimana, tapi bagaimana lo menjalankan kuliah dengan usaha terbaik lo. Jadikan masa lalu sebagai pacuan untuk melakukan yang terbaik, bukan untuk terus diratapi.
Fix the past, be grateful of what you have now and do your best!
Komentar
Posting Komentar